Thursday, November 8, 2018

Tata Cara Pelaksanaan Umroh

Beberapa waktu yg kemudian, Saya telah menciptakan artikel mengenai rapikan cara ibadah umroh secara generik, baik buat kaum pria maupun wanita. Nah, kali ini Saya akan bikin artikel yg terkait dengan tata cara umroh wanita, mengingat adanya perbedaan yg terkait menggunakan cara & urusan lainnya menggunakan rapikan laksana umroh bagi kaum pria.

Perbedaan rapikan cara ini tentu ada hikmahnya, bukan mendeskreditkan atau membeda-bedakan pria dengan wanita. Justru dengan adanya disparitas tadi, melindungi kaim wanita menurut rasa ketidaknyamanan pada melaksanakan ibadah umroh.

Mengenai kasus ini, Saya sudah merangkumnya sebagai beberapa point, sebagai akibatnya mampu mempermudah Anda dalam membaca dan memahaminya. Inilah utama-utama disparitas tersebut :

·         Harus didampingi oleh mahramnya contohnya suami, saudara kandung atau beberapa wanita terpercaya. Tetapi, bila dia merasa konfiden akan keamanannya pada melaksanakan umrah tanpa pendampingan, maka dibolehkan melaksanakannya apabila umrah itu bersifat harus semisal umroh lantaran nadzar. 

·         Harus seizin suami bagi yg telah berumah tangga, lantaran kedudukan dari pada suami kedudukannya lebih tinggi menurut umroh. Selain itu, ibadah umrah sifatnya sanggup diundurkan dalam pelaksanaannya, nir misalnya perintah suami yg sifatnya harus segera dilaksanakan dalam saat itu.

·         Ketika seorang wanita sedang pada masa indah lantaran ditinggal meninggal suaminya, maka haram bagi dia berangkat menunaikan ibadah umrah, bila dalam ketika tewas suaminya dia belum masuk ke pada ihram. Adapun bila telah ihram lalu suaminya mati, maka boleh baginya meneruskan ibadah umroh tadi.

·         Ketika seseorang perempuan   telah diceraikan & sedang dalam masa indah, maka boleh bagi mantan suami melarangnya menunaikan ibadah umrah sehingga menggenapkan masa indahnya dahulu.

·         Dianjurkan (sunat) sebelum masuk ke pada ihram, menggunakan inai pada 2 telapak tangan hingga pada pergelangannya, dalam wajah supaya menutupi rona kulitnya. Apabila melakukannya sehabis ihram maka hukumnya makruh.

·         Makruh mengucapkan lafadz talbiyyah menggunakan suara yang keras, tetapi dianjurkan dengan berukuran bunyi yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

·         Haram menutup muka di pada ihram (memakai burkak), dan selain muka maka harus ditutupi.
·         Namun diperbolehkan menutupkan ujung kain yang digunakan dalam kepala ke wajah namun dengan cara merenggangkannya dari wajah.

·         Boleh memakai pakaian yang mencakup badan kecuali sarung tangan. Kalau ingin menutupi telapak tangannya, maka boleh menggunakan cara membalut kain lain yang terpisah.

·         Tidak dianjurkan pada saat thawaf mengusap, mengecup & meletakkan dahi pada Hajar Aswad, kecuali dalam ketika sunyi area thawafnya dari kaum pria.

·         Juga nir disunnatkan melakukan thawaf menggunakan cara mendekat pada Ka'bah, kecuali dalam saat sunyi area thawafnya dari kaum laki-laki .

·         Tidak disunnatkan melakukan iththiba' & lari-lari mini   (raml) pada thawaf.
·         Tidak disunnatkan lari-lari mini   pada sa'i.

·         Tidak disunnatkan mencukur rambut waktu melakukan tahallul, tetapi cukup dengan menggunting sebagian saja.

·         Tidak diharuskan melakukan thawaf wada' jika waktu akan meninggalkan Makkah dalam keadaan haid atau nifas, hanya disunnatkan berdiri pada pintu Masjid al-Haram dan berdoa.

Itulah beberapa disparitas krusial pada melakukan umroh bagi perempuan  . Adapun disparitas pada ibadah haji pula terdapat dan insya Alloh akan Saya tulis kemudian. Naca juga tentang syarat umroh bagi perempuan  .
Share:

0 comments:

Post a Comment